Itulah komentar yang keluar pertama kali dari ibu – ibu saat diberi tahu berapa banyak bahan yang diperlukan untuk membuat salah satu jenis kerajinan dari sampah yang berupa tempat tisue. Ibu – ibu dari Desa Argasoka yang ditemani oleh P. Eko Yus dkk dari LH Banjarnegara saat datang studi banding ke Bojanegara, meskipun akhirnya belajar dan bisa merangkai beberapa lembar dari bahan bungkus white coffe dan bungkus permen.Argasoka

Yang pasti ibu – ibu semangat sekali belajar membuat kerajinan yang diajarkan oleh Bu Tining sang sepesialis kerajinan yang berupa anyaman. Menurut beliau kerajinan ini memang butuh ketelatenan, kesabaran karena juga harus belajar mengunci agar rangkaian anyaman tersebut tidak lepas. Bahan yang mau dipergunakan harus dipotong bagian bawahnya, lalu dicuci sampai bersih dan dikeringkan juga harus sampai betul – betul kering agar nantinya tidak berbau atau tumbuh jamur. Nah, setelah proses itu dilalui baru kegiatan menganyam dilakukan. Kita bisa memilih bahan untuk menghasilkan paduan warna yang bagus.

Menurut Bu Tining kesulitan kerajinan jenis ini adalah ketika harus membentuk jenis lekuk, lengkung atau siku. Disini butuh ketelitian agar setiap sisi/sudut yang dibentuk tidak tinggi sebelah atau lebar sebelah. Selamat belajar ibu-ibu semoga cepat bisa, karena mereka berjanji suatau saat akan datang lagi kalau saat membuat dirumah menemui kendala atau kesulitan. Insya allah kmai dari Bojanegara siap untuk membantu.

Bagikan Berita